Jumat, 07 Februari 2014

TANDA TANDA ORANG YANG MEMPUNYAI KECERDASAN SPIRITUAL
Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual, ketika menghadapi persoalan dalam hidupnya, tidak hanya dihadapi dan dipecahkan dengan rasional dan emosional saja, akan tetapi ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Sehingga, langkah-langkahnya lebih matang dan bermakna dalam kehidupan.
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal, setidaknya ada sembilan tanda bagi orang yang mempunyai kecerdasan spiritual, yakni sebagai berikut:
Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi ditandai dengan sikap hidupnya yang fleksibel atau bisa luwes dalam menghadapi persoalan. Fleksibel di sini bukan berarti munafik atau bermuka dua. Fleksibel juga bukan berarti tidak mempunyai pendirian. Akan tetapi, ini lebih karena pengetahuannya yang luas dan dalam serta perwujudan dari hati yang tidak kaku.
Orang yang fleksibel semacam ini lebih mudah menyesuaikan diri dalam berbagai macam situasi dan kondisi. Orang yang fleksibel juga tidak mau dalam memaksakan kehendak dan tak jarang tampak mudah mengalah dengan orang lain. Meskipun demikian, ia mudah untuk bisa menerima kenyataan dengan hati yang lapang.
Orang yang mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi berarti ia mengenal dengan baik siapa dirinya sendiri. Orang yang demikian lebih mudah mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan keadaan; termasuk dalam mengendalikan emosi. Dengan mengenal diri sendiri secara baik maka seseorang lebih mudah pula dalam memahami orang lain. Dalam tahap spiritual selanjutnya, lebih mudah baginya untuk mengenal Tuhannya.
Dalam menghadapi persoalan hidup yang semakin kompleks, kemampuan untuk mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi ini sangat penting sekali. Tidak mudah baginya untuk putus asa. Jauh dari kemarahan, sebaliknya sangat dekat dengan keramahan. Orang yang semacam ini tidak mungkin mendapatkan julukan sebagai orang yang tidak tahu diri dari orang lain.
Tidak banyak orang yang bisa menghadapi penderitaan dengan baik. Pada umumnya manusia ketika dihadapkan dengan penderitaan akan mengeluh, kesal, marah, atau bahkan putus asa. Akan tetapi, orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang baik akan mempunyai kemampuan dalam menghadapi penderitaan dengan baik.
Kemampuan menghadapi penderitaan ini didapatkan karena seseorang mempunyai kesadaran bahwa penderitaan ini terjadi sesungguhnya untuk membangun dirinya agar menjadi manusia yang lebih kuat. Ia juga mempunyai kesadaran bahwa orang lain yang lebih menderita darinya ternyata masih banyak. Ternyata, ia tidak sendirian dalam menghadapi penderitaan. Lebih dari itu, ia juga menemukan hikmah dan makna hidup dari penderitaan yang sedang dihadapinya.
Setiap orang pasti mempunyai rasa takut, entah sedikit atau banyak. Takut terhadap apa saja, termasuk menghadapi kehidupan. Dalam menghadapi rasa takut ini, tidak sedikit dari manusia yang dijangkiti oleh rasa khawatir yang berlebihan; bahkan berkepanjangan. Padahal, hal yang ditakutkan itu belum tentu terjadi. Takut menghadapi kemiskinan, misalnya, bila berlebihan maka rasa takut itu bisa membuat seseorang lupa terhadap hukum dan nilai. Akhirnya, dalam rangka supaya hidupnya tidak miskin, tak segan ia menipu, berbohong, mencuri, atau melakukan korupsi.
Tidak demikian dengan orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Ia bisa menghadapi dan mengelola rasa takut itu dengan baik. Dengan sabar ia akan menghadapi segala sesuatu. Kesabaran dalam banyak hal memang bisa bermakna sebagai keberanian seseorang dalam menghadapi kehidupan. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mempunyai kecerdasan spiritual mempunyai sandaran yang kuat dalam keyakinan jiwanya.
Demikian empat tanda bagi orang yang mempunyai kecerdasan spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshal. Semoga di kesempatan berikutnya saya dapat menguraikan lima tanda yang lainnya.
Salam Pendidikan Indonesia,
Anto Johan
PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI KEHIDUPAN MANUSIA..                                                          menurut ANTO JOHAN
Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu mencerdaskan dan mensejahterakan. Dalam konteks mencerdaskan sudah jelas pendidikan akan membebaskan dari buta huruf dan sebagai sarana untuk meraih kenaikan jenjang. Sedangkan fungsi mensejahterahkan membuat pendidikan berperan dalam sejahtera atau tidaknya kehidupan seseorang.

Jika diikuti dengan akhlak yang baik maka semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik juga kesejahteraannya. "Kita perlu membangun kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi bangsa," jelasnya dalam Oase Ramadan.

Anis mengatakan salah satu masalah pendidikan di Indonesia adalah masalah guru. Pendidikan, lanjutnya, adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Jika pendidiknya baik maka materi yang disampaikan akan tersampaikan dengan baik ke peserta didik. Ia mengatakan kita perlu memperbaiki kualitas guru dan kesejahteraannya. Dengan memperhatikan keduanya maka kita sedang menata masa depan bangsa.

Rasulullah dalam hadisnya juga mengatakan agar umatnya menuntut ilmu sejauh mungkin dan sebanyak mungkin. Selain itu, Islam juga menganjurkan umatnya untuk terus belajar melalui wahyu pertama yang berbunyi Iqra atau membaca. Hal ini, kata Anis, menunjukkan perhatian yang begitu besar bagi Islam terhadap pendidikan dalam kehidupan umatnya.

Sebagai salah satu dari 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), Indonesia dan negara anggota lainnya dikaruniai sumber alam seperti minyak, gas dan tambang yang melimpah. Namun faktanya hal tersebut hanya merupakan 79% dari total Pendapatan Nasional Jepang yang samasekali tidak memiliki sumber alam sebagaimana negara-negara anggota OKI

 "Hal itu terjadi karena Jepang memiliki manusia-manusia terdidik," terang Anis.

Satu contoh lagi adalah usai terkena pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Jepang Hirohito bukannya menanyakan mengenai berapa jumlah tentara yang tersisa. Ia justru bertanya berapa banyak guru yang masih hidup. Kekonsistenan bangsa Jepang, urainya, harusnya bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita selain perintah yang sudah jelas dalam Islam.

Ustad Haikal Hasan mengatakan kewajiban untuk meraih pendidikan setinggi mungkin sudah jelas di sebutkan. Allah SWT, lanjutnya, akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dihadapanNya. Selain itu Nabi Muhammad mengatakan barangsiapa yang tidak menyukai ilmu maka dia akan celaka.

"Hendaknya kita selalu membuka diri terhadap ilmu dan terus menerus meningkatkan pengetahuan dan pendidikan kita karena Islam sendiri mengharuskannya," 

Sabtu, 01 Februari 2014

Tips memilih Jurusan Kuliah

Tips Memilih Jurusan Kuliah
Ujian Nasional sebentar lagi dilaksanakan dan selanjutnya adalah menentukan langkah selanjutnya. Bagi kalian yang ingin meneruskan pendidikan masuk ke perguruan tinggi tentunya harus sudah menyiapkan jurusan apa yang akan diambil nanti. Beberapa anak  suka mengalami kendala dalam memutuskan utuk memilih perguruan tinggi mana dan memilih jurusan kuliah apa karena sebagian anak belum mengetahui bakat dan minatnya sendiri.
Tak sedikit anak yang memilih jurusan kuliah atas dasar ikut-ikutan temannya yang sudah kuliah, karena dorongan dan paksaan orang tua dan juga karena mengikuti pacar. Yang perlu kalian tau jika memilih jurusan kuliah tidak sesuai dengan kepribadian, bakat, minat serta potensi diri kita sendiri akan menimbulkan beberapa masalah dalam proses study. Salah memilih jurusan kuliah punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan di masa mendatang, kira-kira apa dampak salah memilih jurusan kuliah? Ada yang tau?
Berikut Dampak Salah Memilih Jurusan Kuliah
1.      Problem Psikologis
 


Mempelajari sesuatu yang tidak sesuai minat, bakat dan kemampuan, merupakan pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan, apalagi kalau itu bukan kemauan / pilihan anak, tapi desakan orang tua. Belajar karena terpaksa itu akan sulit dicerna otak karena sudah ada blocking emosi. Kesal, marah, sebal, sedih, itu semua sudah memblokir efektivitas kerja otak dan menghambat motivasi. Memilih jurusan kuliah sesuai dengan saran teman atau trend, padahal tidak sesuai dengan minat diri juga punya dampak psikologis, yakni menurunnya daya tahan terhadap tekanan, konsentrasi dan menurunnya daya juang. Apalagi kalau pelajaran kian sulit, masalah semakin bertambah, bisa menyebabkan kuliah terancam terhenti di tengah jalan.
2.      Problem akademis
Problem akademis yang bisa terjadi jika salah mengambil jurusan kuliah yaitu, seperti prestasi yang tidak optimum, banyak mengulang mata kuliah yang berdampak bertambahnya waktu dan biaya, kesulitan memahami materi, kesulitan memecahkan persoalan, ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, dan buntutnya adalah rendahnya nilai indeks prestasi. Selain itu, salah memilih jurusan kuliah bisa mempengaruhi motivasi belajar dan tingkat kehadiran. Kalau makin sering tidak masuk kuliah, makin sulit memahami materi, makin tidak suka dengan perkuliahannya akhirnya makin sering bolos. Padahal, tingkat kehadiran mempengaruhi nilai.
3.      Problem relasional
Salah memilih jurusan kuliah membuat anak tidak nyaman dan tidak percaya diri. Ia merasa tidak mampu menguasai materi perkuliahan sehingga ketika hasilnya tidak memuaskan, ia pun merasa minder karena merasa dirinya bodoh, dsb hingga dia menjaga jarak dengan teman lain, makin pendiam, menarik diri dari pergaulan, lebih senang mengurung diri di kamar, takut bergaul karena takut kekurangannya diketahui, dsb. Atau, anak bisa jadi agresif karena kompensasi dari inferioritas di pelajaran. Karena dia merasa kurang di pelajaran, maka dia berusaha tampil hebat di lingkungan sosial dengan cara missal, mendominasi, mengintimidasi anak yang dianggap lebih pandai, dsb.
Nah, setelah kita tau betapa besar dampak salah memilih jurusan kuliah, maka tugas kita selanjutnya adalah bagaimana cara memilih jurusan yang benar.
Bagaimana memilih jurusan kuliah yang tepat?
Memilih jurusan kuliah pada dasarnya merupakan sebuah proses yang sudah dimulai sejak masa anak-anak. Kesempatan, stimulasi, pengalaman apa saja yang diberikan pada anak sejak kecil secara optimum dan konsisten, itu akan menjadi bekal, modal dan fondasi minat dan bakatnya. Makin banyak dan luas exposure-nya, makin anak tahu banyak tentang dirinya, tapi makin sedikit exposure nya, makin sedikit juga pengetahuan anak tentang dirinya. Menurut Gunadi et al (2007), ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, berikut tips memilih jurusan yang tepat menurut Gunadi (2007):
·         Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum memilih jurusan, hendaknya anak punya informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternative profesi kerja, kualitas alumninya, dsb.
·         Menyadari bahwa jurusan yang dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir. Anak perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak past sukses seperti yang di iklankan.
·         Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat siswa yang bersangkutan. Jika seorang siswa memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minatnya, maka dirinya akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika dirinya tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih, bisa mempengaruhi  motivasi belajar seperti yang telah dijelaskan di atas.
·         Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau belajar menghadapi tantangannya.
·         Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita anak. Setiap anak pasti memiliki cita-cita. Jika anak bercita-cita menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses. Misalnya, anak kelak ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.
·         Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika anak memiliki lebih dari satu alternative untuk menjaga jika dirinya tidak masuk di alternative pertama, maka masih ada kesempatan di alternative berikutnya. Pemilihan alternative studi harus pun diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan anak, bukan karena pilihan yang paling besar kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.
Kuliah membutuhkan banyak biaya dan waktu yang tidak sebentar. Maka, selagi masih belum terlanjur, memilih jurusan kuliah harus memang benar-benar tepat untuk anda, jangan sampai nantinya putus ditengah jalan.