Jumat, 07 Februari 2014

TANDA TANDA ORANG YANG MEMPUNYAI KECERDASAN SPIRITUAL
Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual, ketika menghadapi persoalan dalam hidupnya, tidak hanya dihadapi dan dipecahkan dengan rasional dan emosional saja, akan tetapi ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Sehingga, langkah-langkahnya lebih matang dan bermakna dalam kehidupan.
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal, setidaknya ada sembilan tanda bagi orang yang mempunyai kecerdasan spiritual, yakni sebagai berikut:
Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi ditandai dengan sikap hidupnya yang fleksibel atau bisa luwes dalam menghadapi persoalan. Fleksibel di sini bukan berarti munafik atau bermuka dua. Fleksibel juga bukan berarti tidak mempunyai pendirian. Akan tetapi, ini lebih karena pengetahuannya yang luas dan dalam serta perwujudan dari hati yang tidak kaku.
Orang yang fleksibel semacam ini lebih mudah menyesuaikan diri dalam berbagai macam situasi dan kondisi. Orang yang fleksibel juga tidak mau dalam memaksakan kehendak dan tak jarang tampak mudah mengalah dengan orang lain. Meskipun demikian, ia mudah untuk bisa menerima kenyataan dengan hati yang lapang.
Orang yang mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi berarti ia mengenal dengan baik siapa dirinya sendiri. Orang yang demikian lebih mudah mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan keadaan; termasuk dalam mengendalikan emosi. Dengan mengenal diri sendiri secara baik maka seseorang lebih mudah pula dalam memahami orang lain. Dalam tahap spiritual selanjutnya, lebih mudah baginya untuk mengenal Tuhannya.
Dalam menghadapi persoalan hidup yang semakin kompleks, kemampuan untuk mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi ini sangat penting sekali. Tidak mudah baginya untuk putus asa. Jauh dari kemarahan, sebaliknya sangat dekat dengan keramahan. Orang yang semacam ini tidak mungkin mendapatkan julukan sebagai orang yang tidak tahu diri dari orang lain.
Tidak banyak orang yang bisa menghadapi penderitaan dengan baik. Pada umumnya manusia ketika dihadapkan dengan penderitaan akan mengeluh, kesal, marah, atau bahkan putus asa. Akan tetapi, orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang baik akan mempunyai kemampuan dalam menghadapi penderitaan dengan baik.
Kemampuan menghadapi penderitaan ini didapatkan karena seseorang mempunyai kesadaran bahwa penderitaan ini terjadi sesungguhnya untuk membangun dirinya agar menjadi manusia yang lebih kuat. Ia juga mempunyai kesadaran bahwa orang lain yang lebih menderita darinya ternyata masih banyak. Ternyata, ia tidak sendirian dalam menghadapi penderitaan. Lebih dari itu, ia juga menemukan hikmah dan makna hidup dari penderitaan yang sedang dihadapinya.
Setiap orang pasti mempunyai rasa takut, entah sedikit atau banyak. Takut terhadap apa saja, termasuk menghadapi kehidupan. Dalam menghadapi rasa takut ini, tidak sedikit dari manusia yang dijangkiti oleh rasa khawatir yang berlebihan; bahkan berkepanjangan. Padahal, hal yang ditakutkan itu belum tentu terjadi. Takut menghadapi kemiskinan, misalnya, bila berlebihan maka rasa takut itu bisa membuat seseorang lupa terhadap hukum dan nilai. Akhirnya, dalam rangka supaya hidupnya tidak miskin, tak segan ia menipu, berbohong, mencuri, atau melakukan korupsi.
Tidak demikian dengan orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Ia bisa menghadapi dan mengelola rasa takut itu dengan baik. Dengan sabar ia akan menghadapi segala sesuatu. Kesabaran dalam banyak hal memang bisa bermakna sebagai keberanian seseorang dalam menghadapi kehidupan. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mempunyai kecerdasan spiritual mempunyai sandaran yang kuat dalam keyakinan jiwanya.
Demikian empat tanda bagi orang yang mempunyai kecerdasan spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshal. Semoga di kesempatan berikutnya saya dapat menguraikan lima tanda yang lainnya.
Salam Pendidikan Indonesia,
Anto Johan
PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI KEHIDUPAN MANUSIA..                                                          menurut ANTO JOHAN
Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu mencerdaskan dan mensejahterakan. Dalam konteks mencerdaskan sudah jelas pendidikan akan membebaskan dari buta huruf dan sebagai sarana untuk meraih kenaikan jenjang. Sedangkan fungsi mensejahterahkan membuat pendidikan berperan dalam sejahtera atau tidaknya kehidupan seseorang.

Jika diikuti dengan akhlak yang baik maka semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik juga kesejahteraannya. "Kita perlu membangun kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi bangsa," jelasnya dalam Oase Ramadan.

Anis mengatakan salah satu masalah pendidikan di Indonesia adalah masalah guru. Pendidikan, lanjutnya, adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Jika pendidiknya baik maka materi yang disampaikan akan tersampaikan dengan baik ke peserta didik. Ia mengatakan kita perlu memperbaiki kualitas guru dan kesejahteraannya. Dengan memperhatikan keduanya maka kita sedang menata masa depan bangsa.

Rasulullah dalam hadisnya juga mengatakan agar umatnya menuntut ilmu sejauh mungkin dan sebanyak mungkin. Selain itu, Islam juga menganjurkan umatnya untuk terus belajar melalui wahyu pertama yang berbunyi Iqra atau membaca. Hal ini, kata Anis, menunjukkan perhatian yang begitu besar bagi Islam terhadap pendidikan dalam kehidupan umatnya.

Sebagai salah satu dari 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), Indonesia dan negara anggota lainnya dikaruniai sumber alam seperti minyak, gas dan tambang yang melimpah. Namun faktanya hal tersebut hanya merupakan 79% dari total Pendapatan Nasional Jepang yang samasekali tidak memiliki sumber alam sebagaimana negara-negara anggota OKI

 "Hal itu terjadi karena Jepang memiliki manusia-manusia terdidik," terang Anis.

Satu contoh lagi adalah usai terkena pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Jepang Hirohito bukannya menanyakan mengenai berapa jumlah tentara yang tersisa. Ia justru bertanya berapa banyak guru yang masih hidup. Kekonsistenan bangsa Jepang, urainya, harusnya bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita selain perintah yang sudah jelas dalam Islam.

Ustad Haikal Hasan mengatakan kewajiban untuk meraih pendidikan setinggi mungkin sudah jelas di sebutkan. Allah SWT, lanjutnya, akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dihadapanNya. Selain itu Nabi Muhammad mengatakan barangsiapa yang tidak menyukai ilmu maka dia akan celaka.

"Hendaknya kita selalu membuka diri terhadap ilmu dan terus menerus meningkatkan pengetahuan dan pendidikan kita karena Islam sendiri mengharuskannya," 

Sabtu, 01 Februari 2014

Tips memilih Jurusan Kuliah

Tips Memilih Jurusan Kuliah
Ujian Nasional sebentar lagi dilaksanakan dan selanjutnya adalah menentukan langkah selanjutnya. Bagi kalian yang ingin meneruskan pendidikan masuk ke perguruan tinggi tentunya harus sudah menyiapkan jurusan apa yang akan diambil nanti. Beberapa anak  suka mengalami kendala dalam memutuskan utuk memilih perguruan tinggi mana dan memilih jurusan kuliah apa karena sebagian anak belum mengetahui bakat dan minatnya sendiri.
Tak sedikit anak yang memilih jurusan kuliah atas dasar ikut-ikutan temannya yang sudah kuliah, karena dorongan dan paksaan orang tua dan juga karena mengikuti pacar. Yang perlu kalian tau jika memilih jurusan kuliah tidak sesuai dengan kepribadian, bakat, minat serta potensi diri kita sendiri akan menimbulkan beberapa masalah dalam proses study. Salah memilih jurusan kuliah punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan di masa mendatang, kira-kira apa dampak salah memilih jurusan kuliah? Ada yang tau?
Berikut Dampak Salah Memilih Jurusan Kuliah
1.      Problem Psikologis
 


Mempelajari sesuatu yang tidak sesuai minat, bakat dan kemampuan, merupakan pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan, apalagi kalau itu bukan kemauan / pilihan anak, tapi desakan orang tua. Belajar karena terpaksa itu akan sulit dicerna otak karena sudah ada blocking emosi. Kesal, marah, sebal, sedih, itu semua sudah memblokir efektivitas kerja otak dan menghambat motivasi. Memilih jurusan kuliah sesuai dengan saran teman atau trend, padahal tidak sesuai dengan minat diri juga punya dampak psikologis, yakni menurunnya daya tahan terhadap tekanan, konsentrasi dan menurunnya daya juang. Apalagi kalau pelajaran kian sulit, masalah semakin bertambah, bisa menyebabkan kuliah terancam terhenti di tengah jalan.
2.      Problem akademis
Problem akademis yang bisa terjadi jika salah mengambil jurusan kuliah yaitu, seperti prestasi yang tidak optimum, banyak mengulang mata kuliah yang berdampak bertambahnya waktu dan biaya, kesulitan memahami materi, kesulitan memecahkan persoalan, ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, dan buntutnya adalah rendahnya nilai indeks prestasi. Selain itu, salah memilih jurusan kuliah bisa mempengaruhi motivasi belajar dan tingkat kehadiran. Kalau makin sering tidak masuk kuliah, makin sulit memahami materi, makin tidak suka dengan perkuliahannya akhirnya makin sering bolos. Padahal, tingkat kehadiran mempengaruhi nilai.
3.      Problem relasional
Salah memilih jurusan kuliah membuat anak tidak nyaman dan tidak percaya diri. Ia merasa tidak mampu menguasai materi perkuliahan sehingga ketika hasilnya tidak memuaskan, ia pun merasa minder karena merasa dirinya bodoh, dsb hingga dia menjaga jarak dengan teman lain, makin pendiam, menarik diri dari pergaulan, lebih senang mengurung diri di kamar, takut bergaul karena takut kekurangannya diketahui, dsb. Atau, anak bisa jadi agresif karena kompensasi dari inferioritas di pelajaran. Karena dia merasa kurang di pelajaran, maka dia berusaha tampil hebat di lingkungan sosial dengan cara missal, mendominasi, mengintimidasi anak yang dianggap lebih pandai, dsb.
Nah, setelah kita tau betapa besar dampak salah memilih jurusan kuliah, maka tugas kita selanjutnya adalah bagaimana cara memilih jurusan yang benar.
Bagaimana memilih jurusan kuliah yang tepat?
Memilih jurusan kuliah pada dasarnya merupakan sebuah proses yang sudah dimulai sejak masa anak-anak. Kesempatan, stimulasi, pengalaman apa saja yang diberikan pada anak sejak kecil secara optimum dan konsisten, itu akan menjadi bekal, modal dan fondasi minat dan bakatnya. Makin banyak dan luas exposure-nya, makin anak tahu banyak tentang dirinya, tapi makin sedikit exposure nya, makin sedikit juga pengetahuan anak tentang dirinya. Menurut Gunadi et al (2007), ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, berikut tips memilih jurusan yang tepat menurut Gunadi (2007):
·         Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum memilih jurusan, hendaknya anak punya informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternative profesi kerja, kualitas alumninya, dsb.
·         Menyadari bahwa jurusan yang dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir. Anak perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak past sukses seperti yang di iklankan.
·         Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat siswa yang bersangkutan. Jika seorang siswa memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minatnya, maka dirinya akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika dirinya tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih, bisa mempengaruhi  motivasi belajar seperti yang telah dijelaskan di atas.
·         Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau belajar menghadapi tantangannya.
·         Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita anak. Setiap anak pasti memiliki cita-cita. Jika anak bercita-cita menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses. Misalnya, anak kelak ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.
·         Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika anak memiliki lebih dari satu alternative untuk menjaga jika dirinya tidak masuk di alternative pertama, maka masih ada kesempatan di alternative berikutnya. Pemilihan alternative studi harus pun diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan anak, bukan karena pilihan yang paling besar kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.
Kuliah membutuhkan banyak biaya dan waktu yang tidak sebentar. Maka, selagi masih belum terlanjur, memilih jurusan kuliah harus memang benar-benar tepat untuk anda, jangan sampai nantinya putus ditengah jalan.



 

Kamis, 30 Januari 2014

Peran Keluarga Dalam Mencetak Generasi Berkualitas

Peran Keluarga Dalam Mencetak Generasi Berkualitas
 
Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan pertama dan terutama bagi anak. Pendidikan keluarga bertujuan agar anak mapu berkembang secara maksimal yang meliputi seluruh aspek perkembangan anaknya, yaitu jasmani dan rohani. Banyak penulis dan peneliti yang membicarakan tentang tujuan pendidikan. Mereka membicarakan bahwa pendidikan tidak hanya mempunyai tujuan menyiapkan individu agar bisa beribadah kepada Alloh semata namun juga mencakup semua karya, cipta, rasa dan karsa yang diniatkan kepada Alloh.
 Pendidikan keluarga akan ditemukan sebuah karakter yang sangat kuat pada diri seorang anak Pendidikan dalam keluarga dapat memberikan pengaruh besar kepada karakter seorang anak. Sebab itu kunci utama untuk menjadikan manusia tidak manja dan hidup energik terletak dalam pendidikan keluarga. Kalau kita membaca pernyataan berbagai pemimpin besar dunia, maka banyak di antara mereka memberikan nilai penting kepada pendidikan dalam keluarga. Antara lain Bung Karno selalu mengagumkan pengaruh seorang Ibu. Juga Ki Hadjar Dewantara mengemukakan pentingnya pendidikan dalam keluarga.Karena dalam karakter yang ditimbuhkan adalah faktor yang amat penting dalam kepribadian orang. Karena akan banyak mempengaruhi prestasi dalam berbagai bidang seperti memimpin masyarakat. Ilmu pengetahuan dan kemampun teknik adalah penting bagi pencapaian keberhasilan, tetapi tidak akan mencapai hasil maksimal kalau tidak disertai sebuah karakter.
 Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota keluarganya dan itu merupakan masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau mudah berubah sesudahnya.
 Ada sebuah pendapat dari seorang ulama yang bahwa sangat pentingnya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan; Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat  bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa aja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Namun sebaliknya bila anak dibiasakan dengan kejelekan, niscaya akan menjadi jahat. Kedua orang tuanya juga ikut menanggung dosanya. Maka hendaklah orang tua memelihara, mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik kepada anak-anaknya, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewaan biar waktu dewasa umurnya tidak dihabiskan untuk memburu kesenangan dunia semata.
 Kualitas SDM yang akan terbentuk dari seorang anak didik, sangat tergantung seberapa besar pendidikan orang tua ketika di rumah. Apabila dalam keluarganya, keluarga memberikan pendidikan yang baik, maka hal tersebut akan terbawa ke dalam kepribadian anak tersebut sampai ke sekolah maupun dalam masyarakat. Sehingga peran keluarga sangat vital dalam membentuk generasi yang berkualitas. Komponen sekolah maupun institusi yang ada hanya sebagai penguat dalam mengarahkan pendidikan yang lebih struktural.
 Pendidikan yang sebenarnya bisa mencetak generasi yang berkualitas adalah dimulai dari lingkungan keluarga. Dimana seorang anak memulai berinteraksi, belajar, menemukan pola kepribadian yang terbentuk. Segala yang dibiasakan dan di bangun dalam keluarga tersebut yang akan membentuk seorang anak di kedepannya.

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI GENERASI MUDA


Dalam zaman modern yang penuh dengan pengaruh globalisasi ini, kita ditutuntut untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Pernyataan ini bukan tanpa sebab, kerena kita tau sendiri bahwa dalam zaman ini sendiri sudah banyak sekali kemajuan di bidang IPTEK dan tuntutan akan pekerjaan pun semakin tinggi persyaratannya.
Suatu perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja pun pasti aka memilih calon pekerja yang mempunyai kemempuan yang tinggi dan berdedikasi tinggi pula. Dan untuk mendapatkan kerja demi masa depan kita, khususnya para generasi muda yang kelak akan menggantikan generasi yang sekarang, kita wajib mendapatkan ilmu dan kemempuan yang bisa menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan kelak di masa depan.
Untuk mendapatkan semua itu, kita perlu untuk bersekolah pada berbagai tingkatan-tingkatan tertentu supaya mendapatkan ilmu dan kemampuan yang bisa dijadikan bekal di masa depan. Dalam hal ini, sekolah sangat berpengaruh pada seseorang di masa  depannya. Sebagai contoh, orang yang berpendidikan rendah atau bahkan tidak bersekolah, maka masa depan orang tersebut akam suram dan sebaliknya, jika orang bersekolah sampai tingkat yang tinggi, maka orang tersebut akan mendapatkan masa depan yang sukses pula.
Pada zaman sekarang, sudah banyak perkembangan dengan sekolah-sekolah. Dulu, ketika globalisasi belum berpengaruh di dunia ini, sekolah masih jarang dan fasilitas ataupun guru-guru pengajar masih relatif kurang memadai. Namun, di zaman yang serba modern ini, kita sudah tidak perlu repot-repot lagi untuk memuntut ilmu di sekolah, karena pada waktu sekarang ini sudah banyak sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Tidak itu saja, fasilitas dan tenaga pendidiknya juga sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya.
Lalu… apa sih yang disebut dengan sekolah itu??? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sekali mendengar atau menyebut kata “sekolah” itu. Tapi, apa pengertian sebenarnya dari “sekolah” itu sendiri???
Kita perlu ingat bahwa kata “sekolah” dan “sekolahan” itu mempunyai arti yang bebeda, jika sekolah adalah suatu proses seseorang dalam mendapatkan ilmu dan pembimbingan dari pada guru agar bisa berguma bagi masa depannya kelak. Sedangkan sekolahan sendiri adalah suatu tempat yang digunakan atau dipakai untuk sekolah. Jadi dapat dikatakan bahwa sekolah adalah “proses” dan sekolahan adalah “tempat”
Namun, yang menjadi pertanyaan, mangapa sekolah bisa disebut “proses”???
Sebelum kita bahas itu, marilah kita ingat-ingat tingkatan-tingkatan sekolah. Tingkatan-tingkatan sekolah di Indonesia yaitu:
·                     Playgroup
·                     TK (Taman Kanak-kanak)
·                     SD (Sekolah Dasar)/ MI (Madrasah Ibtidayah)
·                     SMP (Sekolah Menengah Pertama)/ MTs (Madrasah Tsanawiyah)
·                     SMA (Sekolah Menengah Atas)/ MA (Madrasah Aliyah)
·                     PT (Perguruan Tinggi)
Setelah kita lihat data diatas, kita tau bahwa sekolah itu sendiri juga ada tingkatan-tingkatannya. Dari mulai playgroup sampai Perguruan Tinggi. Tidak hanya itu, dalam berbagai tingkatan sekolah itu juga ada bagian-bagian tingkatan yang lebih kecil lagi. Misalnya tingkatan kelas, semester, cawu, triwulan atau bahkan bab pembelajaran tertentu.
Dari pernyataan-pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sekolah itu merupakan sebuah proses yang melewati berbagai tingkatan-tingkatan tertentu untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak dari tingkatan yang telah dilalui.
Kita bersekolah untuk mendapatkan ilmu yang berguna bagi masa depan kita. Lalu, ilmu apasaja yang bisa kita dapatkan dari ber-sekolah??? Apakah kita hanya mendapatkan ilmu tentang IPTEK di sekolah untuk masa depan kita???
Dari pertanyaan diatas, dapat disimpulkan bahwa pertanyaan diatas menanyakan tentang fungsi dan menfaat dari sekolah. Sebenarnya banyak sekali manfaat dari sekolah itu, namun tidak pernah kita sadari sebelumnya. Selain kita bisa mengetahui hal-hal yang belum kita kitahui sebelumnya, Tanpa disadari atau tidak, sekolah juga membentuk kepribadian kita secara tidak langsung.
Sebenarnya, tujuan atau fungsi dari sekolah itu sendiri dibagi menjadi dua garis besar yaitu: fungsi pendidikan dan fungsi pengajaran. Fungsi pendidikan yaitu fungsi yang mencacu pada akhlak atau tingkah laku dan kepribadian seseorang. Jadi, melalui fungsi ini, seseorang dapat dibentuk kepribadiannya dalam sekolah. Sedangkan fungsi pengajaran yaitu fungsi yang mengacu pada pengetahuan dan kemampuan seseorang. Jadi, melalui fungsi ini, seseorang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan (IPTEK) yang memadai dan dapat menjadi bekal di masa yang akan datang.
Jadi, di sekolah sebenarnya kita tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan saja, melainkan mendapatkan apa yang disebut akhlak, yaitu, sesuatu yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang dalam bertingkahlaku yang baik sesuai dengan norma yang berlaku.
Namun, yang akhir-akhir ini sering menjadi pertanyaan publik, apakah semua sekolah bisa memberikan manfaat dan menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya, mengingat zaman pun semakin maju dan persaingan kerja pun semakin ketat. Pertanyaan itu muncul dikarenakan pada zaman sekarang ini banyak kita ketahui tentang adanya sekolahan favorit. Misalnya anak yang sekolah di sekolahan favorit tersebut kebanyakan memperoleh ilmu dan kemempuan yang tinggi dan bisa bersaing dalam dunia kerja, tetapi, mengapa anak yang sekolah di sekolahan   tidak favorit kebanyakan kurang bisa bersaing dan mendapatkan ilmu yang kurang juga.
Dari data diatas, dapat kita ketahui bahwa setiap sekolahan mempunyai ciri khas masing-masing. Seiring berkembangnya zaman yang semakin pesat ini, setiap sekolahan pasti mempunyai cara-cara tersendiri untuk mengikuti perkembangan zaman itu.
Walaupun sebenarnya pemerintah sudah menetapkan standar tingkat pendidikan atau kurikulum yang berlaku melalui mentri pendidikan nasional, tetapi di setiap sekolahan juga ada program-program tersendiri yang dibuat oleh  pihak sekolahan dan dilakukan dalam lingkup sekolah itu saja. Jadi, program sekolah dapat mempengaruhi kualitas sekolah itu juga.
Itu merupakan salah satu factor eksternal (dari luar) yang mepengaruhi kualitas pendidikan. Selain program dari sekolah itu sendiri, keadaan suatu daerah yang menjadi tempat sekolahan juga mempengaruhi. Misalnya daerah yang masih primitive atau daerah yang tertinggal, disana banyak sekali anak-anak yang tidak bisa bersekolah dengan mudah kerena masih jarangnya sekolahan yang didirikan di daerah itu dan jalur transportasi dan komunikasi pun juga masih sangat sulit.
Tetapi, tidak semua anak yang bersekolah di sekolahan favorit dapat bersaing dengan baik dalam dunia kerja. Jadi, apakah yang menyebabkan hal ini terjadi???
Dari pertanyaan diatas, kita bisa mengetahui bahwa sekolahan yang favorit belum tentu menghasilkan siswa yang berkualitas. Dalam kasus ini, yang paling berpengaruh adalah dari faktor internal (dari dalam) yang dimiliki oleh siswa tersebut. Faktor internal tersebut lebih condong ke perilaku sehari-hari dari siswa tersebut yang mengganggu siswa dalam menuntut ilmu. Faktor ini misalnya, malas, sering sakit, kurang gizi dll.
Dari berbagai cerita diatas, kita telah tau bahwa sekolah sangat penting bagi kehidupan kita semua, khususnya paara generasi muda yang akan menggantikan para generasi tua. Dan untuk bersaing dalam dunia kerja yang semakin ketat di zaman modern ini, apa lagi dengan adanya globalisasi yang semakin merajalela serta kemajuan IPTEK.
Sekolahan tidak banyak berpengaruh terhadap hasil dari siswa yang bersekolah di sekolahan tersebut. Karena tidak semua sekolahan yang favorit bisa mencetak siswa yang berprestasi, dan begitu pula sebaliknya dengan sekolahan yang tidak favorit juga bisa mencentak siswa yang unggul.
Karena sekolah merupaka sebuah proses yang harus dijalani untuk mendapatkan ilmu, muka, dalam berlangsungnya proses tersebut ada faktor-faktor yang mempengaruhi atau mengganggunya. Daik itu berasal dari luar diri seseorang ataupun dari dalam diri seseorang tersebut.
Untuk mempersiapkan diri kita dalam melangkah menuju masa depan yang lebih baik, maka kita juga harus sekolah dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk menghilangkan semua faktor yang mengganggu peroses belajar kita di sekolahan. Agar kita bisa berkoonsentrasi penuh dalam belajar dan menuntut ilmu untuk masa depan.
Dan akhir kata, marilah kita ingat selalu kata-kata dibawah ini….
“SEKOLAH ADALAH PROSES, BUKAN INSTAN”.” SEKOLAH JUGA BUKAN “DIMANA”, “SIAPA”, ATAU “APA”, TETAPI SEKOLAH ADALAH “BAGAIMANA”